header-int

Kejamnya Politik; Kasus Prof. Anies R. Baswedan

Senin, 24 Jun 2019, 16:55:11 WIB - 598 View
Share
Kejamnya Politik; Kasus Prof. Anies R. Baswedan

Pertarungan kontestasi pemilu kepala daerah gubernur DKI Jakarta, masih berbuntut panjang. Terpilihnya Prof. Anies R. Baswedan sebagai gubernur tidak serta-merta pertarungan dalam konteks politik menjadi selesai. Malah sebaliknya—terutama bagi ‘lawan politiknya’—harus dijegal, apalagi ke depan Anies berpeluang besar untuk bisa ikut meramaikan pemilihan RI 1. Sekarang saja bagi kalangan tertentu Anies disebut Gubernur Jakarta berasa Presiden dengan kebijakan, gaya bicaranya, penampilan dan kepemimpinannya yang santun penuh kharismatik. Ketika tragedi New Zeland, pembantaian di Masjid, Anies menyampaikan rasa simpatik dan belasungkawanya dengan pidato berbahasa Inggris yang fasih—yang viral di Medsos sampai ke luar negeri—dan pidatonya pada peresmian MRT, dianggap menyejukkan dan ‘menghargai’ jasa para pendahulunya dan para pekerja yang tiada lelah sampai MRT mewujud dalam realitas memfasilitasi masyarakat sebagai transportasi massal yang terjangkau, ramah dan bersih.

Tapi bagi lawan politiknya, Anies adalah ancaman serius sehingga Anies harus dijauhkan dari media agar hasil kerja Anies tidak terlihat di mata public, black campign, hambat prestasi kerjanya dan terus dicari kesalahan dan dosanya. 

Selayang Pandang tentang Anies

Anies Rasyid Baswedan, SE., M. P. P., Ph. D., lahir di Kuningan Jawa Barat pada 7 Mei 1969, dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid. Cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan. Istrinya bernama Fery Farhati Ganis dan dikaruniai anak; Mutiara Anissa Baswedan, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan dan Ismail Hakim Baswedan. 

Ia adalah seorang akademisi pendidikan Indonesia dan juga Gubernur DKI Jakarta masa bhakti 2017-2022. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk kabinet kerja sejak 26 Oktober 2014 sampai digantikan oleh Muhadjir Effendy dalam perombakan kabinet pada 27 Juli 2016. Ia juga menginisiasi gerakan Indonesia mengajar dan menjadi rektor termuda yang pernah dilantik oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2007 saat menjadi rektor Universitas Paramadina Jakarta pada usia 38 tahun. Majalah Foreign Policy memasukkan Anies dalam daftar 100 intelektual public dunia. 

Masa kecilnya dikenal sebagai anak yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Usia 5 tahun sudah bersekolah di TK Masjid Syuhada, usia 6 tahun masuk SD Laboratori, Yogyakarta. Melanjutkan di SMP Negeri 5 Yogyakarta kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 5 Yogyakarta. Pada tahun 1987 ia terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Program ini membuatnya menempuh masa SMA selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989. 

Pada 1989-1995 ia diterima di Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta dan menjabat sebagai ketua senat. Pada tahun 1993, Anies mendapat beasiswa dari JAL Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo dalam bidang kajian Asia. Kemudian melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park tahun 1977. Kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dalam bidang ilmu politik di Northem Illinois University pada tahun 1999. 

Pemikirannya tentang UUD 1945, Negara harus melunasi janji kemerdekaannya. Karena Negara ini tidak hanya sedang bercita-cita melainkan sedang berjanji. Janji kemerdekaan itu di antaranya janji perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan peran global pada setiap anak bangsa. Menurutnya masih banyak masyarakat yang belum dilunasi janji kemerdekaannya. 

Kebijakan Gubernur DKI; Ironi Lawan Politik

Pada 16 Oktober merupakan hari bersejarah bagi Anies Baswedan bersama Sandiaga Uno dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo periode 2017-2022.  Kemenangan ini membuat Anies-Sandiaga wajib menuntaskan janji kampanyenya. Di antaranya rumah DP 0 rupiah yang tiga bulan lebih dua hari setelah dilantik, groundbreaking rumah tanpa DP Klapa Village di kawasan Jakarta Timur mulai dibangun pertama karyanya. Menghentikan reklamasi di Teluk Jakarta, kurang dari setahun Anies membuktikan janjinya pada rakyat Jakarta. Izin 17 pulau reklamasi Teluk Jakarta telah dicabut dan empat di antaranya akan diatur untuk kepentingan masyarakat. Menutup Hotel Alexis, ini dibuktikannya dengan meminta operasional Hotel Alexis distop setelah adanya kajian soal temuan pelanggaran terhadap Perda yang ada. Kemudian OK 0 Trip yang diganti dengan nama Jak Lingko, system transportasi Jakarta yang terintegrasi dan tersambungkan, mulai dari microbus, medium, besar, LRT dan MRT. Pemberian Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus kepada 850 ribu siswa di DKI Jakarta, meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP), realisasi pendapatan daerah mencapai 64,82 trilyun (103,69%), pemberian hibah untuk guru swasta dan madrasah swasta Rp. 500 ribu/bulan dan lainnya. 

Menarik tulisan Toni Rosyid, pengamat politik dan pemerhati bangsa. Anies menurutnya, pemimpin yang bekerja berbasis gagasan dan narasi, satunya kata dengan perbuatan. Menunaikan janji-janji politik yang terukur dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Jelas keberpihakannya kepada rakyat yang layak mendapatkan pembelaan.

Ironisnya, kamera TV diawasi agar wajah Anies tidak muncul dan terpublikasi. Demonstrasi dikirim setiap hari di Balaikota, media menghindar saat Anies menerima tiga kategori penghargaan dari KPK. 40 Marbot Masjid diumrohkan Ahok, media gempar, Anies memberangkatkan 267 marbot, tidak ada media yang mengekspos dan tak terpublikasikan. Ingin  membangun GOR Persija di BMW, anggaran dihadang di DPRD. 

Apa ‘dosa’ Anies, sehingga harus menghadapi kekuatan-kekuatan yang harus menghambatnya untuk membangun prestasi Jakarta? Jaya Suprana menyatakan bahwa ‘dosa’ Anies yang terbesar adalah karena ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ia telah menyegel reklamasi, menutup Alexis, proyek raksasa yang telah direncanakan tidak dapat ruang untuk dilanjutkan. Anies dianggap sumber ancaman bagi proses kapitalisasi Jakarta. Ada satu lagi—dan ini dianggap sebai ‘dosa’ yang paling besar—Anies dinilai public Gubernur rasa Presiden, dari gaya bicara, bersikap dan menjaga wibawa—terutama di hadapan para pemimpin internasional—Anies menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin kelas dunia. Julukan ini satu sisi membanggakan, tapi sisi lain secara politis akan menjadi ancaman. Gubernur rasa Presiden adalah strata social-politik yang melahirkan persepsi adanya dua matahari kembar di negeri ini. Sehingga bagi lawan politiknya, Anies adalah ancaman dan harus dihentikan langkahnya dengan berbagai cara. 

Walaupun begitu, ia tetap tampil tenang, berwibawa, berbicara dengan tatanan kata yang tersusun dengan penuh kesantunan. Ini terlihat ketika ia memberikan sambutan pada saat peresmian MRT dengan tulus dan tanpa menafi’kan ide, gagasan dan jasa para pendahulunya dengan tidak mengklaim sebagai sebuah hasil kerja sendiri. Bahkan dengan penuh kerendahan hati ia mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada mereka para pekerja yang berpeluh siang dan malam bekerja tanpa henti. 

Sungguh sebuah ungkapan yang menunjukkan kapasitas seorang pemimpin, yang menunjukkan bahwa sebuah keberhasilan pasti ada peran orang lain—sekecil apapun. Dengan ilustrasi yang dibangun dalam narasinya, ia mengungkapkan bahwa Borobudur dibangun selama lebih dari 100 tahun. Kita kagum karyanya tapi tidak pernah kenal nama-nama para pekerjanya. Menurutnya, memang para pekerja di balik karya besar selalu tersembunyi, tapi karyanya dirasakan semua orang dan membanggakan. 

Wallahu a’lam bi al-shawab

 

Oleh: Masduki Duryat

Penulis adalah dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, tinggal di Kandanghaur Indramayu

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Amin Indramayu adalah perguruan tinggi yang dirintis dari 2002 dan resmi mendapatkan SK operasional pada tahun 2005 dengan semangat peningkatan SDM di wilayah Indramayu Barat.
© 2019 STIT Al-Amin Indramayu Follow STIT Al-Amin Indramayu : Facebook Youtube